Mencari kebahagian

Mencari kebahagian

Selasa, 08 Maret 2011

Meng-HIDUPkan HIDUP

... terasa HIDUP dalam keHIDUPan ...
tatkala kita selalu berusaha meng-HIDUPkan HIDUP ....

Karya tulis ini tidakah berisi kata-kata sakti yang sering diungkapkan oleh filsuf Plato atau Socrates, atau kalimat-kalimat super yang sering disampaikan oleh Pak Mario Teguh dan bukan pula berisi untaian-untaian kata yang dapat menggugah motivasi seseorang seperti yang sering dituliskan oleh M. Solikhin dalam setiap karya-karyanya.

Tapi karya tulis ini hanya berisi sebuah ajakan untuk merenungi hidup, mencari hakikat dan makna hidup serta rangsangan untuk memanfaatkan potensi yang ada dalam diri. Karena jika kita telah mengetahui esensi hidup dan kita mampu membangkitkan semangat yang kemudian dapat mengoptimalkan potensi diri. Maka kita akan lebih mudah dalam menjalani hidup.

Karya tulis ini memang dibuat untuk memberikan harapan pada orang yang merasa tidak punya harapan, memberikan sedikit solusi hidup pada orang yang membutuhkan pencerahan, memberikan gambaran hidup yang hakiki pada orang yang belum menemukan makna hidup dan memberikan keyakinan pada orang yang penuh keraguan. Serta merenungi segala bentuk jalan hidup agar dapat menjadi insan yang pandai bersyukur.

Semoga karya yang saya susun dengan sepenuh hati ini dapat bermanfaat dalam kehidupan para pembaca. Jika anda merasa termotivasi dan tergugah untuk kembali bersemangat dalam melanjutkan hidup. Semata-mata itu bukanlah karena karya yang sederhana ini, tapi itu karna diri anda mempunyai energi yang dapat menggerakkan hati dan jiwa anda dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan aral dan rintangan ini ........

*SELAMAT MEMBACA*

PENDAHULUAN

    Banyak orang yang telah MATI dalam ke-HIDUPannya tapi ada juga orang yang HIDUP dalam ke-MATIannya. Artinya tatkala hidup kita merasa kurang bermakna dan tak banyak memberikan makna maka kita akan terasa mati walaupun kita masih hidup. Tapi sebaliknya orang-orang yang banyak memberikan kontribusi dalam hidupnya seperti pahlawan akan selalu hidup dikenang massa dan tak lekang oleh masa walaupun mereka telah lama meninggalkan dunia ramai.
    Tatkala kita ‘tak bisa’ berbuat apa-apa atau lebih tepatnya ‘tak ada keinginan’ untuk melakukan sesuatu, sebab
    Pendeknya, Karya yang sederhana ini akan mengajarkan ... Upss, lebih tepatnya mengajak para pembaca untuk selalu memaknai setiap jengkal proses kehidupan dengan dibumbui rasa syukur dan qonaah serta selalu berfikir positif sehingga dapat menyajikan sesuatu yang terbaik dalam kehidupan diri.
  
INVESTASI POTENSI

Di awal pertemuan kali pertama saya masuk kuliah. Seorang dosen, pak Emay Akhmad Maehi, Sag. Begitu nama dosen tersebut mengajukan sebuah materi tentang ‘HUMAN INVESTMENT’ sebuah teori yang menggugah keyakinan saya serta dapat menumbuhkan keinginan saya agar dapat hidup lebih baik. Dimana teori tersebut menyebutkan bahwa segala potensi, kompetensi dan edukasi yang ada dalam diri manusia ternyata dapat menjadi investasi yang mempunyai economic rate yang tinggi yang dapat merubah kehidupan ekonomi dan kehidupan sosial seseorang menjadi lebih baik, tapi yang paling penting ‘HUMAN INVESTMENT’ tersebut juga menjadikan kehidupan seseorang menjadi lebih mudah.
Namun pada implementasinya kita tidak melulu menjadikan bakat dan potensi sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu diluar batas bakat dan potensi tersebut. Karena bakat itu hanya 1 % sementara yang 99 % nya adalah usaha. Sehingga walaupun kita tidak mempunyai bakat asalkan kita mau berusaha, pasti kita bisa melakukannya. Karena tak ada usaha yang sia-sia, sekecil apapun pasti ada hasilnya.
MAN JADDA WA JADA
“Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan ada jalan”
Mungkin saya adalah salah satu contoh konkrit dalam kasus ini, saya mempunyai minat dalam tulis menulis namun saya menyadari bahwa saya tidak merasa mempunyai bakat dalam bidang itu dan secara geneticpun saya tidak dilahirkan dalam lingkungan keluarga penulis atau novelis. Namun pak Taufik Ardani, Sag. MA. Seorang coordinator mahasiswa tempat dimana saya berkuliah mencoba meyakinkan saya dengan meluncurkan sebuah contoh bahwa ketika kita ingin belajar mengendarai sepeda, motor atau mobil tidak harus punya bakat cukup usaha dan kita akan dapat mengendarainya, begitu juga dengan menulis.
Namun kita harus bisa memastikan, kita bisa memanfaatkan potensi yang kita miliki serta mau berusaha untuk menjadi insan yang bermanfaat, bersyukur serta berdedikasi. Dan kita harus ingat bahwa Allah sudah memegang scenario hidup kita, sehingga ketika harapan dan keinginan kita tidak sesuai dengan realita, sungguh itu terjadi karena Allah memiliki rencana yang lebih hebat.

EKSISTENSI MANUSIA DALAM KEHIDUPAN

Allah SWT memberikan kepercayaan kepada manusia untuk menjadi ‘khalifatu fil ard’ atau pemimpin di muka bumi. Allah SWT menganugerahkan potensi dan kompetensi pada tiap-tiap individu manusia. Tak ada seorang manusiapun yang tidak dibekali potensi daam kehidupannya. Karena pada hakikatnya tak ada sesuatu yang sia-sia yang telah diciptakan-Nya. Sekecil apapun … senista apapun … sekotor apapun … Bahkan kotoran sapi yang kita anggap sebagai barang najis dan kotor ternyata masih bisa dimanfaatkan sebagai penghasil gas (biogas). Begitu juga dengan manusia. Setiap manusia memiliki potensi dan kompetensi yang unik dan khas. Dan itu merupakan sumber daya tuhan untuk memudahkan hidup manusia dalam menjalani kehidupannya. Dan seyogyanya potensi dan kompetensi tersebut dapat digunakan sebaik-baiknya bukan hanya untuk kepentingan diri pribadi tapi juga untuk kemaslahatan sosial. Namun sungguh sangat ironi karena hal itu sangat bertentangan dengan realita yang ada. Tak terhitung lagi orang yang menjadi penjahat … bangsat bahkan keparat. Realita ini merupakan penjelmaan dari kurangnya pemahaman akan eksistensinya sebagai manusia yang hidup dalam satu komunitas sosial. Setiap manusia dituntut hal yang sama yaitu menjadi insan Tuhan yang mampu memberikan manfaat, sumbangsih serta kontribusi untuk orang lain  sebagai satu bentuk pengabdiannya terhadap Allah SWT yang telah menganugerahkan potensi padanya. Karena hidup adalah untuk memberikan manfaat.
KHOIRUNNAASI ANGFA’UHUM LINNAASI
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi (sesama) manusia”
“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya” pesan pak Harfan kepada 10 anak yang diberi julukan Laskar Pelangi dalam film “LASKAR PELANGI” yang fenomenal.
    Jangan mengaku sebagai makhluk sosial, sementara kita hanya duduk, diam berpangku tangan hanya sebagai penonton. BERGERAKLAH !!! … Lakukan sesuatu yang bermanfaat. Hidup itu tidak sekedar sekolah, bekerja, menikah, berkeluarga lantas mati. Dan kita berfikir hidup kita hanya cukup seperti itu. INGAT !!! HIDUP ITU TIDAK SESEDERHANA ITU.
***

Tidak harus menjadi guru dan dokter untuk menjadi orang yang bermanfaat. Profesi apapun yang kita geluti, kita tetap dituntut hal yang sama yaitu manfaat dan kontribusi. Jika anda hanya seorang tukang bakso, jadilah tukang bakso yang jujur. Akhir-akhir ini banyak sekali kasus tentang adanya bakso yang berbahan daging yang tidak layak untuk dikonsumsi, daging tikus misalnya. Atau bakso yang mengandung formalin dan boraks hanya sekedar untuk mendapatkan untung yang lebih besar dengan mengorbankan orang lain. Hal itu sangat bertentangan dengan tuntutan dasar manusia sebagai makhluk Tuhan yang bermanfaat. Bahkan lebih baik menjadi tukang obat yang jujur dan bermanfaat dari pada menjadi pejabat yang khianat dan tidak amanat yang suka makan duit rakyat. Kita bisa mengkontribusikan sedikit manfaat lewat profesi yang ditekuni dengan tanpa meninggalkan profesi tersebut dan tanpa terkecuali. Sehingga ketika kita selalu berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat, kita akan mempunyai prestasi dalam hidup. “Harimau mati meninggalkan belangnya … gajah mati meninggalkan gadingnya”.
Bahkan Solikhin Abu ‘Izuddin meluncurkan sebuah pertanyaan dalam karyanya “DEADLINE POWER”, Prestasi dan karya apa yang telah kita torehkan di dunia ini sebelum ajal menjemput ?. OK, sebagai contoh Michael Faraday meninggalkan maha karyanya yaitu lampu pijar yang sampai saat ini masih digunakan oleh milyaran orang setelah berabad-abad lamanya., Albert Enstein dengan teori relativitasnya, Adam Smith dalam bidang ekonomi, Ibnu sina dalam dunia kedokteran dan Aljabar dalam dunia ilmu hitung atau tokoh lokal seperti Buya Hamka dengan berbagai macam pemikirannya dalam perkembangan agama islam.
Maha karya apa yang sudah kita buat atau sedang kita siapkan sebelum meninggalkan dunia ini ?
Sebuah pertanyaan yang sangat menuntut kiprah dan prestasi kita dalam hidup.
Mungkin terlalu sulit bagi kita untuk mengikuti jejak para ilmuwan-ilmuwan besar seperti diatas. Minimal, orang merasa kehilangan tatkala kita meninggalkan dunia ini, jangan sampai menjadi sampah masyarakat atau bangsat yang keparat yang disyukuri kematiannya karena kejahatan yang ia buat. 
INNA SYARRONNAASI MANGZILATAN ‘INDALLAHI YAUMAL QIYAAMATI MANG TAROKAHUNNAASUTTIQOOA FUKHSYIHI
“Sesungguhnya sejahat-jahatnya manusia kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat yaitu orang yang dijauhi orang lain karena takut akan kejahatan orang itu”
(HR. Bukhori)

HAKIKAT HIDUP

Islam memandang bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi ini untuk mengabdi pada-Nya.

“(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu”. (QS. Al-An’am : 102)
    Bahkan Allah SWT juga memaparkan hakikat hidup dan tugas manusia di muka bumi ini seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Az-zariat ayat 56 :
 
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manisia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariat : 56)
Dari kedua ayat diatas jelaslah bahwa pada hakikatnya hidup manusia itu adalah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT. Namun aplikasi dari istilah ‘menyembah’ dan ‘mengabdi’ tersebut bukan hanya melaksanakan kegiatan ritual keagamaan semata seperti sholat, zakat, puasa, haji, berkurban dan lain sebagainya. Namun lebih luas dari pada itu. Istilah tersebut dimaknai bahwa setiap aktifitas dan usaha yang kita lakukan di dunia ini semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT dan menjadikannya sebagai bentuk ibadah atau ibadah ghoiru mahdhoh. Sebagaimana yang termanifestasi dalam do’a yang selalu kita baca dalam sholat :

“Katakanlah : Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am : 162)

Setiap detak jantung kita…..
Setiap hela nafas kita…….
Setiap gerak langkah kita…..
Itu semua karena rahmat Allah SWT dan hanya untuk-Nya hidup kita.
Seyogianya mulai saat ini…..mulai detik ini kita harus selalu berusaha untuk menjadikan keridhoan Allah SWT sebagai prioritas dari niat-niat kita dalam menjalani kehidupan. Taqwa adalah aplikasi dari hakikat hidup yang harus kita jalankan sebab merupakan bentuk ibadah vertical yang sifatnya mutlak sedangkan bentuk ibadah lain daripada itu yang sifatnya lebih luas dan merupakan ibadah ghoiru mahdhoh yang sifatnya horizontal adalah selalu berusaha untuk memberikan kemanfaatan sosial pada lingkungan sekitar kita.

METAMORFOSA KEHIDUPAN

    Sebelum menjadi seekor kupu-kupu yang cantik nan indah yang dikagumi oleh ribuan bahkan jutaan pasang mata manusia, pada awalnya kupu-kupu hanyalah seekor ulat yang tidak disukai bahkan tak jarang juga orang merasa jijik dan geli karenanya. Namun dengan berjalannya waktu, si Ulat yang menjijikkan dan menggelikan itu berproses berubah menjelma menjadi seekor kupu-kupu nan menawan yang mampu menghipnotis mata siapa saja yang memandangnya dan membiusnya lewat keindahan sayapnya. Dan hal tersebut tidak terjadi sekonyong-konyong atau terjadi begitu saja karena harus melewati proses terlebih dahulu yang biasa kita kenal dengan Metamorfosis.
    Si Ulat harus berproses selama kurang lebih satu bulan menuju kesempurnaannya menjadi seekor kupu-kupu dan si Ulatpun harus terkurung dalam tabir selama menjadi kepompong yang pada akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang indah nan menawan.
    Mungkin Philosofi metamorfosis kupu-kupu tersebut dapat direflesikan dalam perjalanan hidup manusia. Karena pada prosesnya, hidup manusia mengalami sebuah perjalanan yang panjang dan memerlukan rentang waktu yang juga tidak sebentar untuk mencapai kesempurnaan demi mencapai keindahan hidup seperti keindahan kupu-kupu pada akhir proses metamorfosisnya. Dan proses metamorfosis kehidupan akan mencapai keberhasilan dan kesuksesan jika usaha dan perjuangan kita maksimal. Namun pada realitanya dalam menjalani proses kehidupan banyak sekali halangan dan rintangan  menghadang yang harus kita hadapi. Dan tidak jarang pula banyak orang yang yang menyerah bahkan tumbang sebelum mencapai akhir metamorfosis kehidupannya. Sehingga dalam menjalani proses kehidupan, setiap manusia sangat dituntut untuk selalu berjuang bahkan sampai darah penghabisan dan selalu optimis. MAN JADDA WA JADA ….
    Philosofi kupu-kupu juga mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mentafakkuri hidup dengan introspeksi diri agar menjadi manusia yang dapat menjalani hidup dengan segala keindahan dan sebagai sebuah akhir dari perjalanan pencarian jati diri yang direflesikan oleh kupu-kupu ketika menjalani kurungan dalam tabir kepompong sebelum akhirnya menjadi kupu-kupu cantik yang mampu menyihir siapa saja yang memandangnya. Jika kita mampu mengintrofeksi diri dan selalu berusaha untuk selalu memperbaiki diri sebagai salah satu bentuk usaha dalam perbaikan diri, maka kita akan menjadi pribadi yang indah seperti indahnya kupu-kupu yang rela mengurung diri dalam tabir kepompong yang mereflesikan perenungan hidup dan introfeksi diri.
Semoga kita mampu mengambil hikmah dari makhluk Allah yang satu ini dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan kita demi mencapai kesempurnaan dan keindahan hidup.

PROSES HIDUP

    Manusia akan dapat mencapai kesuksesan jika selalu berusaha dan berjuang demi mencapai keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup. Tak ada kata berhenti untuk berjuang dan berusaha dalam hidup karena tida ada batasan ataupun standarisasi kesuksesan sehingga manusia seyogianya selalu berjuang dan berusaha sampai akhir hayatnya. Dan ketika kita selalu berusaha dan berjuang dalam hidup kita maka insyaAllah kita akan mencapai keberhasilan dan kesuksesan dalam setiap bab kehidupan kita.
    “HIDUP ADALAH PROSES”. Kesuksesan itu tidak datang tiba-tiba, karena hidup haruslah berproses dan itu harus diimbangi dengan usaha kita dalam melewati proses tersebut. Jangan pernah menyerah dalam menapaki setiap tangga-tangga kehidupan kita. Dan jangan pernah menyerah ketika kegagalan menghampiri kehidupan kita, karena itu adalah salah satu bagian dari proses perjuangan yang seharusnya memompa semangat kita dalam berusaha sampai keberhasilan dan kesuksesan yang kita harapkan dalam hidup kita benar-benar menjadi kenyataan. Selalulah berfikirlah positif dan qana’ah kepada Allah, yakinlah bahwa hidup akan berpihak pada kita. “Pandanglah kehidupan ini seperti kita memandang gelas setengah penuh berisi air “ begitulah yang dikatakan oleh Nathalie Glebova Miss Canada dalam kontes Miss Universe 2004 menjelang kemenangannya. Pandanglah kehidupan dari sisi yang memiliki arti dan bermakna bukan dari sisi kosongnya yang hanya menghabiskan waktu dan tenaga kita. Perjuanganpun harus dilakukan secara cepat tapi juga tepat. Jangan pernah menunda-nunda waktu … jangan buang-buang waktu … segeralah EKSEKUSI DIRI !!!. Tatkala orang ditanya “Bagaimana dengan masa depan anda ?” maka tak sedikit orang yang menjawab dengan entengnya “Gimana nanti aja !”. Jawaban yang sebetulnya keliru, karena sebuah kesuksesan itu perlu perjuangan yang memerlukan proses serta waktu. Bahkan seharusnya bukan gimana nanti tapi nanti gimana !.
    “LIVE IS PROCESS OF BUILDING” … Hidup adalah proses membangun. Apa yang kita kerjakan hari ini akan sangat mempengaruhi atau bahkan menentukan terhadap apa yang akan kita dapatkan esok hari. Bagaimana kita bisa mempunyai prestasi terlebih mencapai kesuksesan dalam hidup sementara kita hanya diam berpangku tangan tanpa tidakan dan perbuatan. AYO BERGERAKLAH !!!.
INGAT ! Kesuksesan tidak bisa kita dapatkan secara instant karena memerlukan proses dan waktu.

HARAPAN DALAM HIDUP

Jika kita tanyakan tentang arti dan makna hidup pada tiap orang, maka jawabannya bisa saja beragam tiap masing-masing individu yang mereflesikan adanya universalitas dalam berfikir. Namus dari sekian banyak jawaban mungkin terdapat satu inti yang merupakan nyawa dari kehidupan itu sendiri bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan energi lebih dan eksisitensi. Kalaulah memang hidup dimaknai sebagai sebuah perjalanan, maka motivasi adalah bahan bakar yang dapat menggerakkan semangat untuk mencapai cita-cita dan impian yang menjadi tujuan dari perjalanan tersebut.
Tiap orang mempunyai cita-cita dalam hidupnya. Sehingga tidaklah berlebihan rasanya jika ada sebuah ungkapan yang berbunyi “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, bahkan tiap orang dituntut untuk memiliki cita-cita dalam hidupnya bahkan jika perlu setinggi-tingginya. Mimpi, harapan dan cita-cita akan menjadi power dan energi terbesar dalam menjalani hidup. Orang yang tidak mempunyai cita-cita dalam hidupnya diibaratkan seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan namun tidak punya arah serta tujuan. Cita-cita membuat kita selalu termotivasi dalam menjalani hidup, sehingga mampu membakar semangat untuk selalu berjuang dan berusaha dalam mencapai mimpi-mimpi itu. Sementara doa bisa menjadi sebuah kekuatan yang kasat mata yang dapat memperlancar perjalanan hidup kita dalam menggapai cita-cita hidup serta tawakal adalah sebagai bentuk kepasrahan dalam menunggu hasil akhir perjuangan kita.

Perjuangan dalam hidup
Hidup adalah perjuangan. Sebuah usaha untuk mencapai eksistensi hidup tertinggi dalam kehidupan serta mencapai harapan dan cita-cita yang menjadi impian. Tentu hal itu tidak bisa dating dengan sendirinya, karena semua itu butuh perjuangan bahkan pengorbanan. Usaha adalah sebuah penghubung antara keinginan dan kesuksesan. Keinginan dan harapan takkan bisa terwujud tanpa adanya perjuangan.
INNALLOHA LA YUGHAYYIRU MAA BI QAUMIN HATTA YUGHAYYIRU MAA BI ANGFUSIHIM
“Sesungguhnya Allah tida akan mengubah nasib suatu kaum sebelum ia berusaha mengubah nasibnya sendiri”.
Harapan dan Doa
Setiap orang mempunyai harapan dalam kehidupannya. Ketika seseorang telah melakukan usaha-usaha yang optimaluntuk mewujudkan harapan-harapannya, maka usaha selanjutnya yang tidak kalah penting adalah berdoa. Sebuah pendekatan spiritual dengan Tuhan, meminta dan memohon agar semua usaha yang telah dilakukan dapat berbuah manis. Jika kita sudah melakukan usaha yang maksimal dan berdo’a dengan sungguh-sungguh, Allah SWT pasti mengabulkan do’a kita, mewujudkan harapan sebagai bayaran dari jerih payah kita. Tak ada do’a yang tidak dikabulkan, ya betul !!!. Jika seseorang sudah berusaha dengan keras bahkan berkorban dan berdo’a dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan harapan-harapannya. Namun jika pada kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, maka sungguh ini bukanlah karena do’a kita tidak dikabulkan atau ditolak oleh Allah SWT. Tapi itu adalah bentuk lain dari realisasi do’a tersebut, dengan kata lain Allah SWT tetap mengabulkan do’a kita namun dalam bentuk lain karena Dia mempunyai rencana yang lebih baik bagi kita. Ketika kita sudah jungkir balik dalam berusaha dan berdo’a memohon kepada Allah SWT agar harapan dan cita-cita kita terwujud namun realitanya tidak sesuai dengan harapan. Hal tersebut bukan karena Allah SWT tidak mengabulkan do’a yang sudah dipanjatkan dan bukan pula Allah menolak segala usaha-usaha keras yang sudah dilakukan  namun Allah SWT merealisasikan do’a tersebut dalam bentuk lain karena dia mempunyai rencana yang lebih baik bagi orang tersebut. Karena sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik buat Allah. Singkatnya manusia hanya bisa berencana dan berusaha namun pada akhirnya Allah-lah yang memegang skenario hidup kita, Dia-lah lagi yang tentukan yang terbaik buat kita. AL INSAANU BITTAFKIRI WALLAHU BITTATBIRI ....

Tawakal
Ketika usaha sudah maksimal … do’a sudah optimal … maka jalan selanjutnya adalah tawakkal. Sebuah kepasrahan dalam menunggu hasil dari setiap usaha-usaha dan do’a yang dilakukan untuk mencapai harapan dan cita-cita.

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Ath-Thalaq : 3)

Banyak sekali orang yang mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri karena realita hidup tak memihaknya dan harapan serta impiannya tak menjadi kenyataan. Hal itu merupakan dampak dari keinginan yang obsesif dan tidak permisif, artinya kita boleh saja memiliki obsesi namun kita juga harus mengizinkan Allah untuk merealisasikan obsesi tersebut sesuai dengan rencana-Nya, karena pada hakikatnya kita sebagai hamba Tuhan hanya bisa berkeinginan dan merencanakan dan diatas itu semua Allah lah yang merealisasikan keinginan itu sesuai rencana-Nya. Dan kita harus menerima itu.
UTLUBUL HAWAA IJA BI’IZZATILANGFUS FAINNAL UMMUURU TAJRI BIL MAQOO DIIRI
“Carilah segala kebutuhan dengan disertai kebesaran jiwa karena setiap perkara itu berjalan bersama dengan takdir (ketentuan)”
(HR. Ibnu Asyakir dari Abdullah bin Bisyr)
Dan sesungguhnya kekecewaan dalam hidup terjadi karena manusia tidak tawakal. Banyak orang yang mengaku percaya pada Allah namun tidak mempercayakan semua kehidupannya pada Allah. Seharusnya kita bisa memasrahkan semua kehidupan kita kepada-Nya karena hanya Dia yang tahu sesuatu yang terbaik bagi kita.
Dan seyogyanya manusia menjadikan usaha, do’a dan tawakal sebagai salah satu bentuk kerja keras dalam mencapai keinginan hidup. Dan ketiga-tiganya tidak bisa dipisahkan satu sama lain serta tidak hanya melakukan salah satu dari ketiganya, sebab sudah menjadi satu kesatuan utuh yang menjadi keniscayaan.

MANUSIA PALING BERUNTUNG

Seorang laki-laki berperawakan jangkung dan berkulit sawo matang melangah berjalan menyusuri jalan. Pagi itu sangat cerah. Burung-burung berkicau bersahut-sahutan. Laki-laki itu membawa sebuah tas ransel kusam berwarna coklat, dengan menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda pendek dan celana jeans belel dia terus melangkah menyusuri sebuah jalan trotoar dengan tanpa banyak menoleh dia terus saja focus dengan langkah kakinya. Tak lama dia berjalan dia melihat seorang laki-laki muda ‘perlente’ menggunakan kaca mata trend masa kini dan berpakaian rapi berbalutkan kemeja berwarna biru mencolok dan paduan dasi berwarna hitam dan bercelana cotton  berwarna hitam serta paduan sepatu hitam yang sangat serasi, dengan gagahnya membuka pintu sebuah mobil baru yang masih mengkilat berkilauan tersorot cahaya matahari dipagi hari yang sungguh cerah itu sehingga laki-laki jangkung itu harus sedikit memicingkan matanya karena silau dengan kilatan pantulan cahaya dari mobil APV keluaran terbaru itu. Siapa saja akan iri melihatnya, termasuk laki-laki jangkung itu. Matanya terus saja melihat kearah mobil tersebut sampai mobil APV berwarna hitam mengkilat itu hilang dari pandangannya.
 “Hmm ….” Desahnya “Coba aku seperti dia “ lanjutnya. “Punya mobil mewah, pakaian bagus … beruntung sekali orang tersebut” ucapnya sedikit kesal.
Ya, tentu saja kesal dan bahkan perasaan ‘kufur nikmat’ atau rasa tidak bersyukur atas pemberian Tuhan jika kita melihat laki-laki perlente itu. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh laki-laki jangkung itu sehingga dia sedikit kesal jika melihat keadaannya sekarang ini. Kakinya terus saja melangkah tanpa henti, mukanya mengkerut dan masam. Mungkin dia masih teringat dengan laki-laki perlente itu yang membuat dia menjadi sangat iri.

“Mas … sodaqohnya mas  … saya belum makan” seorang laki-laki setengah baya kira-kira berumur 45 tahunan bersimpuh dihadapannya sambil menadahkan tangan kanannya yang kotor , kakinya cacat tak beralas, bajunya putih dan tampak noda-noda kotor dimana-mana sehingga bajunya terlihat kusam dan sangat menjijikan belum lagi wajahnya yang kotor dan tampak noda bekas luka disana-sini dan kepalanya ditutupi topi caping yang sudah sangat tua. Kitapun akan iba jika melihatnya. Sekonyong-konyong laki-laki jangkung itu menjadi terkejut melihat kehadiran laki-laki setengah tua itu yang sangat tiba-tiba. Dan mungkin perasaan si laki-laki jangkung itu juga akan merasa iba melihat keadaan orang yang sering disebut pengemis itu. Tentu saja, itu sangat terlihat dari raut wajahnya yang pucat pasi dengan pandangan yang berkaca-kaca seolah ia ingin sekali menangis sesenggukan dipelukannya. Pandangannya kabur saat mendengar rintihan pengemis itu “ Mas sodaqohnya mas …” sesaat tangannya merogoh kantong celana jeansnya itu dengan spontan, dikeluarkannya lima lembar uang kertas bertuliskan nominal seribu rupiah. Sesaat dia menghela nafas dan memandangi uang itu, mungkin dilemma saat itu ada dalam pikirannya.Bagaimana tidak, sebab hanya lima lembar uang seribuan itu yang dia punya. Tapi sekali lagi matanya menatap orang tua itu, matanya kembali berkaca-kaca mungkin kini matanya hampir melelehkan air mata yang sudah tidak dapat ia bendung lagi. Pikirannya terus berperang dengan hati kecilnya, namun tiga lembar uang seribuan ia berikan kepada orang tua itu dan sisanya dua lembar uang seribuan ia masukkan kembali kedalam sakunya. Hatinya tergetar saat orang tua itu mengucapkan terima kasih.
 “Alhamdulillahirobbil’alamiin ………..” ucap orang tua itu bersyukur dengan air matanya menetes membasahi pipinya yang sudah berkerut karena termakan usia. Berkali-kali orang tua itu menciumi dan meletakkan tiga uang lembar ribuan itu didadanya sambil meneteskan air mata tanda syukur tiada terhingga. Tentu saja menjadi sebuah pukulan yang sangat telak baginya. Hatinya tersentak, tiada kata yang terucap atau bahkan bibirnya tak bisa mengucapkan sepatah kata pun Langkah kakinya seakan tak terarah, tatapannya kosong dan mungkin juga ia sudah lupa kemana ia akan pergi. Ia merasa menyesal dan merasa bersalah karena sudah tidak mensyukuri segala kenikmatan hidup yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Pikirannya melayang, ia masih teringat pada si pengemis tua yang ia temui tadi pagi. Ia masih tak habis pikir. Orang yang menurut dia sebegitu menderitanya dan hidup dalam kekurangan masih bisa mensyukuri hidup. Dia merasa kehidupannya lebih beruntung dibanding pengemis itu. Tapi sungguh, ia tak pernah bersyukur akan kenikmatan yang telah ia kecap selama ini. Dia merasa sangat berdosa. Tak henti-hentinya ia menyalahkan dirinya sendiri. Kini matanya sembab seperti orang yang baru bangun dari tidur lelapnya. Pipinya basah sebab air matanya tak henti-hentinya mengalir. “Ya Allah terima kasih atas segala kenikmatan hidup yang telah engkau anugerahkan padaku ……….. dan ampunilah segala kekhilafanku ………… “ ucapnya lirih sambil menangis sesenggukan. kini ia merasa asing akan sekelilingnya. Tak ada yang bisa ia ingat selain kejadian pagi itu. Kejadian yang membelalakkan mata hatinya, sekaligus membuat ia tersadar dari kekhilafannya. Dan ia pun merasa bersyukur karena Allah menyapa dan menegurnya lewat kejadian itu. Berkali-kali tangannya mendarat dan menyeka pipinya yang basah karena air matanya seakan terus mengalir seiring dengan penyesalan.
    Matanya yang sembab tertuju pada jam tangan tua yang ada di tangan kirinya. Ia sangat kaget ketika mengetahui jam itu menunjukkan jam tujuh lewat 13 menit. Ia mempercepat langkahnya karena jika tidak ia akan kena semprot sang atasan karena ia telah terlambat. Kali ini ia setengah berlari ketika ia memasuki sebuah gerbang yang lumayan besar, di sebelah kiri gerbang tersebut terdapat plang besar terbuat dari batu pualam yang bertuliskan : HOTEL AND RESTAURANT “SRIKANDI” BANDUNG. Ternyata ia adalah salah seorang karyawan di tempat itu dan ia bekerja sebagai cleaning service.

***

Kita akan merasa menjadi manusia yang paling beruntung ketika melihat seseorang yang nasibnya tidak lebih baik dari kita. Seorang karyawan bank akan merasa lebih beruntung ketika melihat seorang buruh pabrik, seorang satpam akan merasa lebih beruntung ketika melihat tukang tambal ban. Si pengendara mobil akan merasa lebih beruntung jika melihat orang yang mengendarai motor, begitu juga dengan orang yang mengendarai sepeda  motor ia akan merasa lebih beruntung daripada orang yang hanya mengendarai sepeda, si pengendara sepedapun tidak kalah merasa beruntungnya  apabila melihat orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki akan merasa menjadi orang yang paling beruntung ketika ia melihat orang yang tidak memiliki kaki. Semua itu belum berakhir karena orang yang mungkin kita anggap tidak beruntung dalam kehidupannya karena kecacatannya malah justru lebih pandai bersyukur seperti dalam cerpen diatas.
Selama kita masih diberikan kesempatan hidup walau bagaimanapun keadaan kita, kita harus tetap mensyukurinya karena itu berarti Allah SWT masih mempercayakan kehidupan ini untuk kita perjuangkan dan seharusnya itu menjadi tanggung jawab bagi kita untuk menjalankan kehidupan ini sebaik-baiknya.
Banyak celah dari kehidupan kita yang bisa kita syukuri. Orang yang selalu merasa beruntung dalam kehidupannya akan selalu menjadi pribadi yang pandai mensyukuri hidup. Dan orang yang selalu bersyukur akan memudahkannya dalam mengarungi kehidupan.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(QS. Ibrohim : 7)
Karena dengan bersyukur akan membangkitkan energi positif dalam dirinya sehingga senyum selalu menyertai hidupnya walau dalam masalah besar sekalipun dan dapat menggerakkan hatinya untuk selalu ikhlas dalam menerima kenyataan hidup. Yang pada akhirnya dia akan selalu tenang dalam menjalani hidupnya sehingga kehidupannya akan lebih terkontrol, lebih santai, tidak gerasak-gerusuk dan kebahagiaanpun akan selalu menjadi bagian hidupnya karena syukur adalah rahasia dan kunci dari kebahagiaan itu.

DO THE BEST

    Salah satu hal yang dapat membuat manusia tidak bersyukur adalah ketidakpuasan dengan apa yang dimilikinya. Mereka selalu mengukur segala sesuatu hanya dengan materi semata. Mereka habiskan seluruh waktu hidupnya hanya untuk mengejar harta atau bahkan tahta dan lupa untuk bersyukur.
    Mereka lupa esensi dari kehidupannya sendiri yaitu menjalani kehidupan dengan selalu melakukan yang terbaik. “Think to do the best never think to be the best” … (berfikirlah untuk melakukan yang terbaik jangan pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik) …. Nasihat seorang sahabat kepadaku.
    Sungguh … memang seharusnya kita selalu berusaha menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. “Never think to be the best …”. Selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam kehidupan kita. Jangan pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik, biarkan Allah yang menilai … bukankah apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.
    Kita boleh saja menjadikan hal yang materialis sebagai tujuan dari kerja keras kita. Namun jangan sampai ambisi kita dalam mendapatkannya membutakan kita sehingga menghalalkan segala cara.
    Jika anda seorang guru jadilah guru yang penuh dedikasi … jika anda seorang dokter jadilah dokter yang penuh loyalitas … sekalipun anda seorang buruh jadilah buruh yang bekerja dengan sepenuh hati. Apapun yang kita kerjakan seyogianya kita mampu memberikan yang terbaik bukan berharap menjadi yang terbaik. Sehingga dedikasi, profesionalitas serta loyalitas menjadi sangat fundamental dalam hal ini.
    Jangan hanya karena sesuatu yang bersifat materi lantas kita menjadikannya sebagai prioritas dalam tujuan kerja keras hidup kita. Ingat !!! Allah itu maha tahu ….

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isro : 84)

    Jadi singkatnya … jika kita ingin mendapatkan imbalan di dunia berupa hal yang materialis dan imbalan pahala di akhirat kelak. Kita harus selalu berusaha untuk melakukan dan memberikan yang terbaik, tentunya juga disertai dengan niat tulus dilandasi karena Allah semata. Karena jika kita melakukan sesuatu karena materi semata maka hanya materi itu saja yang akan kita dapatkan. Tapi jika kita mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan dilandasi karena Allah ta’ala, maka kita akan mendapatkan segalanya dari Allah … dari jalan dan arah mana saja yang dikehendaki-Nya … karena Allah tahu apa yang kita kerjakan.


***